SEKOLAH AVICENNA JAGAKARSA

Leadership School

PERAN DAN KOMPETENSI GURU DALAM MENGEMBANGKAN KEPEMIMPINAN SISWA (STUDENT LEADERSHIP) DI ERA DIGITAL

Apabila anda memberikan ikan kepada seseorang, berarti anda memberinya makan sehari. Jika anda memberikan sebuah alat pancing, berarti anda memberinya makan selama hidupnya. Tetapi jika anda mengajarinya membuat alat pancing, maka sesungguhnya anda memberinya kehidupan baru, dan bukan sekedar makanan” (Steven Covey).

Penggalan kalimat diatas yang ditulis oleh seorang pakar kepemimpinan memiliki makna yang sangat luas. Jika hal tersebut dikaitkan dengan peran seorang guru, maka sangatlah berarti peran guru tersebut dalam memberi kehidupan bagi generasi yang akan datang. Guru bukan hanya memberi pengetahuan yang sifatnya sesaat, tapi memberikan bekal pengetahuan dan bekal pengalaman yang kelak dapat menjadi jalan bagi kesuksesannya dimasa depan. Suksesnya peserta didik selama di bangku sekolah hingga berada ditengah-tengah masyarakat nanti, tentunya sangat dipengaruhi oleh pola pendidikan yang diterimanya dan tentunya ini tidak bisa dilepaskan dari peran guru sebagai role model bagi para peserta didik.

Dalam UU no. 14 tahun 2005, tentang guru dan dosen, dikatakan bahwa guru dalam pendidikan adalah tenaga profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik. Dengan kata lain tugas seorang guru bukan hanya Transfer of knowlede tetapi juga Transfer of value. Sebagai kurikulum berjalan tentunya guru harus mampu menjadi Agent of Change, yang mencetak generasi yang kelak dapat merubah peradaban menjadi lebih baik dari satu masa ke masa yang lainnya. Besarnya peran guru serta tanggung jawab seorang guru tidaklah dapat digantikan oleh mesin ataupun robot, meskipun saat ini kita ada di era digital dimana hampir semua aspek kehidupan dapat berbasis teknologi.

Keberhasilan dalam proses pendidikan dapat dilihat dari berbagai aspek, diantaranya adalah peningkatan pengetahuan dan pemahaman, perubahan prilaku, perubahan paradigma serta semakin terasahnya jiwa kepemimpinan dalam diri peserta didik. Hasil evaluasi pembelajaran yang berupa deretan angka dan nilai saat ini bukan menjadi satu-satunya tolak ukur keberhasilan dalam dunia pendidikan. Jika nilai diatas kertas menjadi satu-satunya tujuan yang akan dicapai, maka kita akan mencetak manusia-manusia seperti robot yang semua terpaku pada angka tanpa keluwesan. Saat ini kita berada dalam era digital, para peserta didik yang menjadi subyek pembelajar sekarang adalah mereka yang dikatakan sebagai generasi

milenial. Tuntutan dan tantangan masa depan di era digital ini tentunya lebih besar lagi, dan tentunya kita sebagai pendidik harus mempersiapkan kebutuhan mereka dimasa depan. Untuk dapat bertahan dalam zona kehidupan masa depan, dimana globalisasi adalah sebuah hal yang lumrah, maka diperlukan kompetensi yang mumpuni, jiwa-jiwa kepemimpinan yang kreatif dan senantiasa mampu berkolaborasi dan dapat mengatasi tantangan yang ada, sangat lah mutlak diperlukan oleh anak-anak kita di masa depan.

Kepemimpinan adalah suatu sikap pribadi yang mampu mengembangkan potensi diri, mampu menempatkan diri serta mampu berfikir terbuka dan positif terhadap diri dan lingkungan. Jiwa kepemimpinan pada peserta didik (Student Leadership) adalah satu hal yang sangat penting yang harus ada. Pada hakikatnya jiwa kepemimpinan telah ada dalam diri setiap anak, dengan kata lain seorang pemimpin dilahirkan secara alamiah, namun agar seorang anak dapat menjadi pemimpin yang efektif di masa depan, maka diperlukan proses dan latihan yang baik, dan hal ini tidak lepas dari proses belajar yang dialami oleh seorang anak tersebut. Mengasah jiwa kepemimpinan bukanlah sebuah proses yang mudah, sebagai seorang pendidik kita harus mampu melihat sumber-sumber kepemimpinan, sebagaimana tukang kayu yang harus mengetahui perbedaan berbagai macam jenis kayu dan asalnya, atau tukang besi yang harus pandai menguasai sifat-sifat besi. Guru harus bisa menemukan dan mengembangkan potensi-potensi bakat, energi dan keinginan-keinginan serta dapat mengarahkan peserta didik ke arah yang lebih baik agar kelak menjadi pemimpin yang efektif bagi dirinya.

Student Leadership merupakan salah satu “Self Guidence” yang dapat membentuk peserta didik lebih percaya diri, mampu mengembangkan bakat serta menjadi suatu sarana untuk memberikan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan keseimbangan, kesabaran dan pengarahan diri. Sehingga ketika para peserta didik telah dibekali dengan sikap-sikap kepemimpinan yang diharapkan, sikap-sikap itu akan tumbuh menjadi karakter pada siswa, dan dapat dipastikan kegiatan pendidikan akan menjadi akan dapat terlaksana dengan baik sehingga output lulusannya pun akan menjadi baik.

Jiwa kepemimpinan sangatlah diperlukan untuk dibangun dalam diri setiap anak. Besarnya tuntutan masyarakat, semakin canggihnya dunia teknologi dan industri, adanya pergeseran nilai dan budaya menjadi salah satu alasan untuk mengembangkan pendidikan kepemimpinan dan pendidikan karakter dalam diri peserta didik, untuk itu diperlukan pola pendidikan dan pola pembelajaran yang tepat untuk tujuan tersebut, dan tentunya guru sebagai pendidik harus menjadi role model yang baik dan memiliki kompetensi unggul serta mampu berkreativitas dalam menyajikan pembelajaran. Menurut menteri pendidikan saat ini yang

dilansir dalam koran kompas, bahwa kompetensi adalah hal utama dalam dunia pendidikan, diikuti berbagai keterampilan yang tidak sebatas hal teknis dan kognitif, tetapi juga keterampilan lunak, seperti empati, kreativitas, kemampuan berkomunikasi dan kemampuan berkolaborasi. Lebih penting lagi kemampuan dan kemauan untuk terus belajar dan berkarya. Dalam sebuah wawancara Nadiem Makarim juga mengatakan bahwa dunia industri jarang mengeluhkan hal-hal seperti pengetahuan SDM atas bidang pekerjaan dan kemampuan teknisnya. Justru yang dikeluhkan adalah SDM yang minim inisiatif, tidak mampu bekerja dalam team, tidak percaya diri dalam mengambil keputusan, tidak komunikatif dalam mengutarakan gagasan dan tidak disiplin dalam menghargai waktu. Padahal, aspek-aspek ini kunci dari profesionalisme. Ini berarti sekolah sebagai sebuah lembaga formal harus mampu menyiapkan segala kebutuhan SDM dimasa depan, dan tentunya kompetensi dan peran guru harus mampu mengimbangi hal tersebut.

Besarnya tuntutan di masyarakat membuat guru harus lebih optimal lagi dalam mempersiapkan generasi pemimpin bagi masa depan. Untuk dapat mencetak generasi unggul yang memiliki jiwa kepemimpinan dan bekal di masa depan, maka seorang guru harus mampu menjadi figur yang penuh teladan dan tentunya menyajikan pembelajaran yang kreatif yang dapat merangsang siswa untuk mau belajar dan kelak memiliki kompetensi yang diharapkan. Di Indonesia dunia pendidikan selama 20 tahun ini belum banyak mengalami perubahan secara signifikan, hanya yang selalu terulang adalah perubahan kurikulum seiring dengan bergantinya para pemangku kebijakan. Perubahan kurikulum tidak harus selalu disikapi dengan merubah keseluruhan pola pengajaran kita, berdalih diatas statement bahwa dalam kurikulum terbaru peserta didik adalah subjek belajar yang harus menemukan sendiri informasi serta mencapai kompetensi yang diharapkan, maka guru lupa akan perannya sebagai transfer of knowledge, serta sebagai seorang fasilitator, dengan membiarkan peserta didik untuk benar-benar mencari dan menemukan sendiri apa yang sedang dipelajarinya. Jika hal ini terus dibiarkan maka para peserta didik hanya akan menjadi robot yang akan bekerja sesuai perintah, aspek kreaitivitas dan jiwa kepemimpinan tidak akan terbentuk dengan pola seperti ini.

Peran guru secara utuh sebagai pendidik, tidak dapat digantikan sepenuhnya dengan kecanggihan teknologi, karena sentuhan seorang guru kepada peserta didik adalah sentuhan kasih sayang yang khas. Untuk itu, meskipun saat ini kita ada di masa revolusi 4.0, yang segala sesuatunya dimudahkan, berbagai informasi bisa diakses oleh peserta didik dari mana saja dan kapan saja, peran guru tetap tidak tergantikan, perlunya up grade diri bagi bagi seorang guru

bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, guna mencapai target yang optimal, yakni menyiapkan generasi unggul yang memiliki jiwa kepemimpinann.

Untuk menyiapkan para guru menghadapi perkembangan zaman yang terus berkembang, setidaknya beberapa kompetensi yang harus dimiliki oleh guru pada era revolusi industri 4.0 ini. Hal ini dilansir oleh Abdul Latip seorang pakar pendidikan yang dituliskan dalam blog kompasiana. Kompetensi tersebut antara lain, guru harus melakukan penilaian secara komprehensif, guru harus memiliki kompetensi abad 21, guru harus menyajikan pembelajaran sesuai kebutuhan dan Passion siswa.

Dalam kompetensi yang pertama, dimana guru harus mampu melakukan penilaian secara komprehensif, hal ini dimaksudkan bahwa penilaian yang dilakukan oleh seorang guru terhadap peserta didik tidak selalu pada aspek kognitif atau pengetahuan saja. Setiap peserta didik memiliki kecerdasan dan kelebihan yang berbeda, tentunya kita sebagai pendidik harus mampu menggali potensi-potensi tersebut. Aspek penilaian harus mencakup aspek keterampilan dan sikap diluar penilaian aspek pengetahuan. Sebagi contoh dalam keseharian disekolah, terkadang kita menemukan anak-anak yang memiliki kekurangan dalam hal menghafal secara sistematis materi yang disajikan guru, tapi disisi lain anak tersebut memiliki keunggulan dalam menggambar, hal ini bisa kita arahkan dengan meminta anak tersebut untuk menceritakan materi yang dipelajarinya dalam bentuk rangkaian cerita bergambar ataupun mind mapping. Jangan membatasi siswa dengan harus menjawab soal-soal teks book sesuai keinginan kita tapi berikan keleluasaan bagi mereka untuk mengemukakan apa yang mereka pahami dengan cara mereka masing-masing. Keberhasilan bukan pada nilai tinggi yang mereka raih, tapi keberhasilan ada pada kemampuan mereka dalam menyampaikan informasi dengan cara yang baik sesuai dengan keunggulan mereka, dan jika hal ini dipupuk dan terus dikemas dengan baik, maka jiwa-jiwa pemimpin akan lahir, pemimpin yang berani mengemukakan pendapat secara terbuka dan terarah.

Kompetensi kedua adalah guru harus memiliki kompetensi abad 21. Hal ini tidak bisa dipungkiri, seperti yang dituliskan sebelumnya bahwa subyek belajar kita adalah generasi milenial yang hidup di abad 21 di era revolusi 4.0 dimana teknologi menjadi hal yang wajib dikuasai. Ada 3 aspek penting dalam kompetensi abad 21, yakni karakter, keterampilan dan literasi. Karakter adalah hal yang sangat penting, seorang pemimpin masa depan haruslah pemimpin yang berkarakter unggul, dimana karakter unggul mencakup dua hal yakni karakter akhlak yang meliputi kejujuran, sopan santun, amanah dan bertakwa serta karakter kinerja yang meliputi bekerja keras, tanggung jawab, dan gigih. Jika sebagai guru kita ingin peserta didik

kita berkarakter maka yang harus dilakukan adalah membangun karakter kita sebagai guru terlebih dulu, menjadi role model bagi pendidikan karakter siswa, maka dengan sendirinya siswa akan mengikuti dan mencontoh hal-hal baik dari gurunya.

Kompetensi abad 21 yang kedua adalah keterampilan. Keterampilan yang perlu dimiliki oleh guru masa kini untuk menghadapi peserta didik abad 21 antara lain kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikatif. Keterampilan-keterampilan tersebut penting dimiliki oleh guru masa kini, agar proses pendidikan yang berlangsung mampu menghantarkan dan mendorong para peserta didik untuk menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan perubahan zaman. Kompetensi abad 21 yang ketiga adalah, literasi. Guru harus melek dalam berbagai bidang. Kemampuan literasi dasar ini menjadi modal bagi para guru masa kini untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih variatif, tidak monoton hanya bertumpu pada satu metode pembelajaran yang bisa saja membuat para peserta didik tidak berkembang, bosan dan pada akhirnya hanya akan menjadi robot. Penggunaan media dan pembelajaran juga harus dikembangkan secara kreatif dan inovatif dan mengembangkan segenap potensi siswa yang heterogen.

Kompetensi ketiga yang harus dimiliki oleh guru adalah mampu menyajikan pembelajaran sesuai kebutuhan dan passion siswa. Berbagai sumber belajar dapat digunakan oleh seorang guru untuk memenuhi kebutuhan siswa, tidak terbatas pada ruang kelas siswa dapat memanfaatkan banyak hal untuk mendapatkan informasi, kreativitas siswa harus dilatih. Dalam hal ini peran guru sebagai fasilitator menjadi sangat penting. Seorang pakar pendidikan menyebutkan bahwa learn is most effective when its fun, dimana belajar akan menjadi efektif jika disajikan secara menyenangkan, menjadi bermakna ketika seluruh aspek dalam diri peserta didik dilibatkan dan seluruh panca indera ikut berpartisipasi dalam kegiatan yang menyenangkan tersebut. Dan ini akan membuat peserta didik menjadi lebih siap dalam menghadapi perkembangan zaman, memiliki jiwa kepemimpinan yang matang dan menjadi manusia yang bermanfaat.

Keseimbangan antara kurikulum yang sistematik, kompetensi dan peran guru yang optimal serta sesuai perkembangan para subjek belajar, serta teknologi yang dimanfaatkan dengan bijaksana akan sangat diperlukan dalam mencapai tujuan pendidikan. Dengan adanya sinergisitas antara kurikulum, kompetensi dan peran guru serta suasana pembelajaran, maka akan menciptakan iklim pendidikan yang baik, terarah dan menyenangkan dan tentunya hal ini akan menghasilkan generasi-generasi milenial yang berjiwa pemimpin, inovatif dan kreatif.

Artikel ini menjadi Juara 3 Lomba Menulis Artikel Sekolah Avicenna

Karya Asli – Irma, Guru SMP Avicenna Jagakarsa


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hallo, Apakah ada yang bisa dibantu?