SEKOLAH AVICENNA JAGAKARSA

Leadership School

Kepemimpinan Guru dalam Menumbuhkan Karakter Leadership melalui Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK)

Kepemimpinan Guru dalam Menumbuhkan Karakter Leadership melalui Pembelajaran Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK)

Guru memiliki peran penting dalam pendidikan karakter di Sekolah. Dan pemerintahpun pada kurikulum 2013 menekankan pada Penguatan Pendidikan Karakter. Dan salah 1 (satu) mata pelajaran yang strategis dalam mendidik karakter anak ada di mata pelajaran pendidikan jasmani. Dimana dalam pembelajaran PJOK tidak hanya teori, tapi juga mempraktikkan keterampilan yang harus dipelajari. Keterampilan atau olahraga dalam PJOK adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan.

PJOK bisa mencakup aspek sikap. Lebih khususnya karakter positif, seperti: berani, percaya diri, bisa bekerjasama, bisa dipimpin, bisa memimpin, taat pada peraturan, jujur, sportif, menghargai orang lain, motivasi berprestasi dan sebagainya. Disini yang akan kita bahas adalah bagaimana peran guru dalam menumbuhkan karakter leadership melalui pembelajaran PJOK. Lebih khusus karakter tentang leadership.

Leadership berarti bisa memimpin dan dipimpin. Aplikasi leadership dalam pembelajaran PJOK terlihat dari awal sampai akhir pembelajaran PJOK. Disini peran awal guru sebagai model atau teladan. Karena salah 1 (satu) cara mengajarkan karakter dengan ampuh yaitu dengan mencontohkan. Beberapa karakter leadership guru yang perlu dicontoh oleh siswa, antara lain: berpenampilan rapih, disiplin, antusias, tegas, percaya diri, adil, mengapresiasi keberanian siswa.

Pertama, berpenampilan rapih. Guru harus berpakaian rapih, potongan rambut rapih dan tidak bau. Kedua, disiplin. Guru harus datang ke kelas/lapangan lebih dulu daripada siswa. Ketiga, antusias. Motivasi sifatnya menular, jika gurunya lesu tidak bersemangat bagaimana dengan muridnya? Untuk itu, guru harus antusias saat berbicara, memberikan arahan dan intruksi. Ketiga, Keempat, tegas. Guru harus berani menegur siswa yang tidak tertib atau tidak mentaati aturan. Misalnya, menegur siswa yang tidak menggunakan pakaian olahraga sekolah saat jam pelajaran PJOK.  Kelima, Percaya Diri. Guru harus tampil percaya diri saat berbicara didepan para siswa atau percaya diri saat memberikan contoh gerakan. Keenam, Adil. Guru harus adil dalam membagi kelompok/tugas, memimpin suatu permainan/pertandingan. Ketujuh, Mengapresiasi keberanian siswa. Guru harus mengapresiasi sekecil apapun keberanian siswa. Misalnya, saat ada siswa yang berani bertanya, guru memuji siswa dengan berkata “pertanyaan bagus”.

Dengan guru sebagai rule model pemimpin yang berkarakter, bisa memotivasi siswa untuk mencontoh gurunya. Karena setiap siswa pada dasarnya suka meniru apa yang dilakukan orang dewasa. Jika guru berkarakter, maka siswa memiliki figur orang yang berkarakter baik.

PJOK yang merupakan mata pelajaran yang unik bisa membentuk siswa menjadi pemimpin yang berkarakter. Karena dalam pembelajaran PJOK bisa dimasukkan karakter positif dengan praktik langsung. Tidak hanya teori atau tehnik keterampilan saja. Disini penulis ingin menguraikan tahapan-tahapan penanaman karakter kepemimpinan siswa dalam pembelajaran PJOK. Pertama, siswa diberi tugas untuk menyiapkan peralatan olahraga yang akan dipakai. Kedua, Ketua kelas membariskan teman-temannya saat sudah berada dilapangan. Ketiga, siswa memperhatikan arahan dari guru dan bersikap antusias. Keempat, Siswa memimpin berdo’a dan stretching. Memimpin berdo’a dan stretching ini dilakukan secara bergantian. Kelima, siswa berani bertanya dan menjawab jika diberi kesempatan oleh guru. Keenam, siswa dibiasakan tertib dan antusias. Ketujuh, Guru menegur siswa yang tidak tertib. Kedelapan, Guru selalu memotivasi untuk selalu aktif dan antusias. Kesembilan, siswa berdiskusi terhadap tugas yang diberikan dan berani mengumukakan pendapat serta tampil untuk mempresentasikan/memperagakan. Kesepuluh, siswa dibiasakan izin jika ingin minum atau ke toilet. Kesebelas, Guru memberikan suatu permainan yang baru, asyik, dan menantang. Keduabelas, Guru memberi evaluasi terhadap kesalahan gerakan yang dilakukan siswa. Ketigabelas, siswa melakukan cooling down secara bersama-sama. Keempatbelas, Siswa dicek pemahamannya dengan diberikan pertanyaan/kuis. Kelimabelas, siswa dibiasakan kompak dan semangat. Misalnya, saat menghitung saat stretching atau cooling down. Jika tidak kompak diulangi lagi sampai kompak dan bersemangat. Keenam belas, Salah 1 siswa memimpin berdoa. Ketujuh belas, diakhir pembelajaran sebelum masuk kelas seluruh siswa berteriak yel-yel atau tos bersama. Misalnya, Guru teriak 4A? Siswa menjawab Jaya.

Karya Asli – Donny Setiawan, Guru SMP Avicenna Jagakarsa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *